Thawaf: Ketika Hidup Kembali Berpusat kepada Allah
Tujuh putaran mengelilingi Ka'bah. Ribuan manusia bergerak dalam arah yang sama. Tidak membedakan bangsa, jabatan, kekayaan, maupun kedudukan.
Inilah thawaf.
Secara lahiriah, thawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran. Namun di balik setiap langkahnya, tersimpan pelajaran yang begitu dalam tentang kehidupan.
Di dunia, kita sering menjadikan banyak hal sebagai pusat kehidupan: pekerjaan, harta, ambisi, keluarga, bahkan diri sendiri.
Namun ketika thawaf, semuanya seakan diingatkan kembali:
pusat kehidupan seorang mukmin adalah Allah.
Kita berjalan bersama ribuan manusia. Ada yang menangis, berdoa, berdzikir, dan memohon ampun. Masing-masing membawa cerita hidupnya sendiri, tetapi semuanya menghadap kepada Tuhan yang sama.
Saat itulah kita menyadari betapa kecilnya diri ini di hadapan kebesaran-Nya.
Thawaf juga mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan. Ada saat langkah terasa ringan, ada pula saat terasa berat. Namun selama arah kita tetap menuju Allah, perjalanan itu tidak akan kehilangan makna.
Maka jangan biarkan thawaf berhenti ketika tujuh putaran selesai.
Bawalah makna thawaf ke dalam kehidupan.
Ketika pulang, biarkan keputusan kita berpusat kepada Allah. Rezeki dicari dengan cara yang diridhai-Nya. Keluarga dibangun karena-Nya. Pekerjaan dijalankan sebagai amanah. Dan setiap langkah kehidupan diarahkan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Di Jam Wisata, kami ingin jamaah bukan hanya mengetahui bagaimana cara melakukan thawaf, tetapi juga memahami makna yang dibawanya.
Karena boleh jadi, kita datang ke Baitullah dengan kehidupan yang penuh arah.
Namun setelah thawaf, kita menemukan kembali satu arah yang paling utama: Allah.
Jam Wisata
Setiap Waktu Bernilai Ibadah.

